Budaya Dapat Memengaruhi Kesehatan Mental Anak. Nggak percaya? Silakan Buktikan!

Jessica,
0

Indonesia memiliki beragam budaya. Keragaman itulah yang kemudian menjadi satu bagian terpenting bagi perkembangan kesehatan mental anak. Pasalnya, hampir kebanyakan orang akan memandang bila kebudayaan merupakan pedoman, petunjuk, serta metode yang mengarahkan cara berpikir seseorang dalam memandang dunia. Pemahaman inilah yang menjadi faktor utama mengapa budaya dapat memengaruhi kesehatan mental anak.

Pergeseran budaya di masyarakat, baik antara sesama budaya di Indonesia maupun serapan budaya dari luar negeri, dapat mengubah perilaku seseorang. Dari mulai yang menghargai dan mencintai kebudayaan sendiri, berubah menjadi orang yang antipati seakan kebudayaan hanyalah tradisi kuno yang tidak layak untuk dibanggakan. Namun, ada pula kebudayaan yang memberi dampak positif bagi perkembangan perilaku seseorang, yaitu semakin banyak budaya baru dari orang asing yang datang maka akan semakin semangat untuk mempertahankan budaya sendiri. Bahkan mengembangkannya.

Mengapa Kebudayaan Memengaruhi Kesehatan Mental Anak?

Kesehatan Mental Anak

sumber : educenter.id

 

Pergeseran arus kebudayaan, membuat beberapa orang syok hingga akhirnya terbawa arus. Pelan namun pasti pola pikir masyarakat akan berubah, mengikuti budaya baru. Lambat laun kesehatan mentallah yang menjadi dampak akhir. Mulai dari sifat konsumtif yang semakin meningkat, hingga penyakit gangguan akibat tekanan arus yang tidak mampu diatasi.

Dalam hubungan antara budaya dan kesehatan mental anak tersebut, ada beberapa faktor yang memengaruhi menurut Wallace, yaitu:

Kesehatan Mental Anak

sumber : hellosehat.com

 

  1. Antar kebudayaan yang saling memengaruhi dapat mencegah terjadinya kesehatan mental. Contoh kecil saja dua budaya dari timur datang bersamaan ke Indonesia. Budaya tersebut memiliki keterikatan dan saling memengaruhi satu sama lain. Sehingga masyarakat lebih mudah menerima kedatangan budaya tersebut. Hal inilah yang dapat menghindarkan kerusakan pada mental anak.
  2. Beragam jenis gangguan mental akibat budaya yang saling bersinggungan. Semisal budaya barat yang terlalu terbuka dengan budaya timur yang tertutup. Keduanya memang masih bisa saling berhubungan, tetapi saling bertolak belakang. Bagi remaja yang belum bisa memahami dan menerima dengan pola pikir dewasa, akan dengan mudah terbawa arus. Baik arus budaya timur maupun budaya barat. Keduanya dapat memberi tekanan masing-masing pada diri remaja. Efek terburuknya, dari tekanan tersebut dapat memicu beragam jenis gangguan psikis seperti panic disorder.
  3. Budaya dapat memengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental yang dialami oleh penderita. Hal ini dapat dicontohkan seperti riset yang dilakukan para psikiatri dan psikolog yang cenderung bias dan tidak memperhitungkan beragam faktor budaya di sekitar. Penelitian didasarkan pada pengalaman rasa sakit yang bersifat Interpretive, artinya hanya terbatas pada kasus sosial tertentu saja. Tidak dapat diartikan secara luas. Hal inilah yang dapat mengganggu penanganan serius terkait gangguan mental yang terjadi pada masyarakat.
Kesehatan Mental Anak

sumber : hellosehat.com

 

Selain memiliki pengaruh pada kesehatan mental anak, kebudayaan juga membawa pengaruh pada kesehatan lansia. Pasalnya, masyarakat yang sudah berusia lanjut dengan pengalaman dan ilmu yang mumpuni, sudah pasti akan dituakan, atau dipanggil pinisepuh maupun ketua adat. Gelar tidak tertulis yang disematkan itulah yang menyebabkan gangguan mental dan fisik pada orang yang sudah usia lanjut. Sebab, kemampuan fisik mereka tidak lagi setara dengan kemampuan anak muda, tetapi masih ada beban yang harus dipikul, yaitu tanggung jawab dari jabatan tidak tertulis yang disematkan oleh masyarakat.

Selain itu, pandangan masyarakat sendiri terhadap orang yang terkena gangguan mental, adalah negatif. Masyarakat cenderung mengartikan orang yang mengalami gangguan ini adalah orang gila. Meski sejatinya belum tentu. Sebab, ada berbagai faktor yang menjadi pemicu dan tidak bisa hanya didiagnosis dengan satu kata saja tanpa ada pemeriksaan lebih lanjut.

Kendati demikian, perubahan budaya cukup berpengaruh dalam kesehatan mental anak. Baik di masa lampau maupun di masa sekarang.

 

Be the first to write a comment.

Your feedback