Ternyata, Anak Jadi Tukang Bully! Coba Beri Dia Pemahaman Ini

Jessica,
0
Anak Jadi Tukang Bully

Dalam bahasa Indonesia, bullying dikenal dengan istilah perundungan. Hal tidak menyenangkan itu bisa terjadi pada siapa saja, dan pada usia apa pun. Namun, apa jadinya kalau ternyata yang melakukan perundungan itu ternyata anak sendiri? Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda lakukan, jika menemukan fakta bahwa anak jadi tukang bully di luar rumah.

1. Menjelaskan dampak dari bullying

Anak Jadi Tukang Bully

pixabay.com

Saat mengetahui anak jadi tukang bully di luar rumah, orang tua harus tetap tenang. Menunjukkan reaksi marah yang berlebihan akan membuat situasi semakin rumit. Sikap tersebut juga tidak akan mengubah keadaan atau sikap dari si anak itu sendiri.

Karena itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjelaskan apa sebenarnya dampak dari bullying atau perundungan. Ajak anak untuk berdiskusi dari hati ke hati. Hindari pula sikap menyudutkan apalagi sampai menghakimi sikapnya.

2. Cari tahu siapa yang menjadi temannya

Anak Jadi Tukang Bully

pixabay.com

Pengaruh lingkungan luar terhadap tumbuh-kembang anak juga sangat penting untuk diperhatikan. Cari tahu siapa saja yang berteman dengannya. Apakah pengaruh dari mereka telah membuat anak jadi tukang bully? Jika ya, Anda wajib memberikannya pemahaman yang baik dalam mencari teman. Meski awalnya dia akan menolak dan merasa sikap Anda terlalu berlebihan, hal ini penting untuk membuatnya tumbuh jadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

3. Bagaimana jika dia yang ada di posisi itu

Anak Jadi Tukang Bully

pixabay.com

Saat anak duduk santai di ruang tamu, ajak dia untuk ngobrol. Coba tanyakan bagaimana jika posisi itu ditempati olehnya. Apakah dia merasa nyaman diperlakukan seperti itu? Apakah dia tidak akan menyimpan dendam, apabila seseorang melakukan itu padanya? Anda bisa melemparkan pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai umpan, guna menggali lebih jauh pandangan anak tentang bullying itu sendiri.

4. Menceritakan kisah Anda atau orang terdekat

Anak Jadi Tukang Bully

pixabay.com

Anda juga bisa memberinya pandangan lain tentang bullying, dengan menceritakan pengalaman orang yang menjadi korban dalam kasus itu. Jika Anda kebetulan pernah menjadi korban bullying, cerita tersebut tentu akan lebih menyentuhnya. Buat dia tahu bahwa dampak dari perundungan bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Bahkan, hal tersebut bisa mendorong seseorang untuk bunuh diri.

5. Meminta bantuan sekolah untuk mengawasinya

Anak Jadi Tukang Bully

pexels.com

Orang tua ingin anak bergaul di lingkungan yang aman dan sehat. Namun, hal itu tentu tidak mudah untuk diterapkan, mengingat dia akan menerima banyak pengaruh dari dunia luar. Untuk membuat anak tidak melakukan kesalahan yang sama, tak ada salahnya untuk melibatkan pihak sekolah.
Anda bisa meminta bantuan wali kelas atau bagian konseling untuk mengawasi perilakunya selama di sekolah. Tanyakan bagaimana anak berinteraksi dengan sesama temannya, atau apakah dia sering melanggar peraturan? Dengan rutin melakukan konsultasi dengan pihak sekolah, Anda bisa memastikan bahwa anak tidak mengulangi sikap buruknya.

6. Awasi penggunaan ponsel pintar miliknya

Anak Jadi Tukang Bully

pixabay.com

Perkembangan teknologi memberi manfaat dan juga ancaman bagi perkembangan anak. Di satu sisi, kecanggihan teknologi membuat arus informasi menjadi lebih cepat dan mudah diakses. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi yang tidak tepat bisa membuat seseorang berubah ke arah yang negatif.

Ketika Anda mengetahui bahwa anak jadi tukang bully, coba cek bagaimana dia menggunakan ponsel pintarnya. Apakah dia sering membuka situs atau akun-akun media sosial yang mendukung sikap perundungan? Apakah dia bergabung dalam grup-grup Whatsapp yang menyimpang? Mengawasi penggunaan ponsel pintar pada anak penting untuk dilakukan, terutama jika dia masih berada di usia yang belia dan labil.

Itulah beberapa hal yang bisa Anda lakukan ketika mengetahui anak jadi tukang bully. Semoga informasi ini bisa membantu Anda memberikan arahan yang baik kepada anak.

Be the first to write a comment.

Your feedback