Mendidik dengan Keras Dapat Mendisiplinkan Anak atau Justru Sebaliknya?

Jessica,
0
Mendisiplinkan Anak

Mendidik anak memang penting. Hal tersebut dapat membentuk karakter serta kepribadian si kecil. Setiap orang tua tentu menerapkan pola asuh yang berbeda untuk satu tujuan, yaitu agar anak mampu menjalani kehidupan dengan baik dan menjadi orang yang mampu membanggakan orang tua. Namun, tidak sedikit orang tua yang justru memaksakan kehendak dan keegoisannya agar anak sesuai dengan yang diharapkan. Pada akhirnya, didikan keraslah yang diterapkan.

Jika sudah seperti itu, apa yang akan didapat oleh anak. Apakah disiplin, rasa tanggung jawab, atau justru sebaliknya? Pembangkangan dan ikut bertindak keras.

Sejatinya, memang tidak ada pola asuh yang tepat untuk anak. Semua disesuaikan dengan karakter anak dan keadaan lingkungan sekitar. Jika bertujuan untuk mendisiplinkan anak, maka mendidik dengan keras bukan jawabannya. Pasalnya, ada dampak negatif yang didapat oleh anak dari hasil didikan seperti itu.

 

Membunuh Sel Otak

Mendisiplinkan Anak

Sumber : todaysparent

 

Ketika anak dalam tahap perkembangan, mereka memiliki sel otak yang jumlahnya lebih dari 10 triliun. Bila anak menerima satu bentakan, artinya lebih dari 10 miliar sel otak telah terbunuh. Sebaliknya, jika pola asuh lebih mengedepankan kasih sayang, mendidik dengan senyuman, pelukan, pujian, 10 triliun sel otak dapat tumbuh dengan baik. Akibatnya, jika setiap hari bentakan atau suara keras yang diterima, pertumbuhan sel otak anak dapat mengalami kerusakan secara perlahan.

 

Berpengaruh buruk pada emosional dan psikis anak

Mendisiplinkan Anak

Sumber : huffpost

 

Didikan yang keras akan memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan emosional serta psikis anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan disiplin hukuman misalnya, mereka memiliki kecenderungan menjadi seseorang yang pemarah dan depresi.

Tekanan yang mereka dapatkan akan menimbulkan pengaruh emosional yang buruk. Jika mereka tidak bisa menggertak, maka yang terjadi adalah depresi. Akibatnya, bukan mendisiplinkan anak malah menimbulkan luka bahkan trauma. Alhasil, psikis anak menjadi tidak stabil. Apalagi jika disertai kata-kata kasar dan keras, hal itu akan semakin merusak mental perkembangan anak. Selain berjuta sel otak mati, luka psikis itu juga akan membekas dalam ingatan dan menjadi luka seumur hidupnya.

 

Melampiaskan perlakuan pada dirinya terhadap orang lain

Mendisiplinkan Anak

Sumber : hellosehat

 

Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Bisa dibayangkan jika mereka mendapat perlakuan kasar dari orang tua. Ketika anak-anak tidak bisa melawan, mereka cenderung melampiaskan apa yang diterimanya pada orang lain. Bisa jadi, hal tersebut juga akan berpengaruh ketika sang anak sudah dewasa nanti. Ia akan melakukan hal yang sama pada anaknya.

 

Memiliki etika sosial yang buruk

Mendisiplinkan Anak

Sumber : closetomom

 

Munculnya sikap egois, keras kepala, pemarah, kurang peduli dan sifat buruk lainnya akan sangat berpengaruh pada interaksi sosial anak. Anak cenderung kurang peduli terhadap sekitar dan bertindak seenaknya sendiri. Anak tidak mampu memilih etika yang baik dan tidak mudah dalam bersosialisasi. Hal tersebut jelas menghambat anak dalam berinteraksi.

 

Menjadi pribadi yang penakut dan lemah

Mendisiplinkan Anak

Sumber : Reader’s Digest

 

Anak yang sering mendapat perlakuan keras dari orang tua, akan menimbulkan rasa takut. Apalagi jika sering mendapat bentakan keras. Hal tersebut dapat memicu ketakutan serta fisiologis melemah. Misal jantung yang berdebar kencang ketika mendengar amarah, hal itu dapat memicu jantung anak menjadi lemah. Hingga anak tidak dapat bertahan dalam situasi panik dan tekanan tinggi. Anak juga akan lebih mudah kaget ketika mendengar suara keras, bahkan tidak suka beraktivitas berat dan lemah.

 

Itulah lima dampak negatif yang harus diterima anak ketika mendapat didikan keras. Bukan malah berhasil mendisiplinkan anak, malah merusak mentalnya.

Be the first to write a comment.

Your feedback