Kenali Lebih Jauh Perihal Loncat Kelas dan Akselerasi agar Anak Belajar Sesuai dengan Kemampuan

Jessica,
0
Loncat Kelas dan Akselerasi

Prestasi seseorang terkadang dilihat dari seberapa cepat dia menyelesaikan pendidikan. Alhasil, muncul program loncat kelas dan akselerasi bagi mereka yang menonjol dari segi akademik. Kendati demikian, untuk memasukkan anak ke percepatan tersebut, perlu memperhatikan serangkaian hal agar dapat belajar dengan sesuai.

Perbedaan Loncat Kelas dan Akselerasi

Loncat Kelas dan Akselerasi

Phys.org

 

Meski sama-sama memiliki esensi percepatan, loncat kelas dan akselerasi memiliki pengertian yang berbeda. Pada tingkat SD sendiri, potongan masa belajar hanya diperbolehkan sebanyak satu tahun.

Loncat kelas lebih sederhana dari akselerasi. Siswa belajar di satu tingkat lebih tinggi dari keadaan normal, tanpa memakai kurikulum khusus. Sementara poin lain, memakai model pembelajaran berbeda dari regular dan cenderung dikumpulkan dalam satu pertemuan sesuai dengan subjek-subjek tertentu yang terlihat menonjol.

Mengubah Pola Pikir Tentang Loncat Kelas dan Akselerasi

Loncat Kelas dan Akselerasi

career.du.edu

 

Akselerasi bukan sekadar loncat kelas. Dalam hal ini, siswa harus dilatih untuk berpikir luas dan mendalam. Selain itu, diberikan tantangan agar lebih kreatif serta mampu memecahkan masalah. Jadi, kriteria anak mampu berada di percepatan ini tidak hanya dilihat dari segi akademis, melainkan kematangan mental.

Di sisi lain, bakat siswa perlu diperhatikan agar bisa berkembang dengan baik selama pelajaran berlangsung. Memadatkan materi tanpa memedulikan aspek ini pun akan sangat berpengaruh pada pendalaman. Dengan menjadikan sebagai acuan juga, guru akan memperoleh metode dan stimulasi yang tepat.

Jika anak tidak diterima di kelas akselerasi, orangtua tidak perlu kecewa atau bahkan malu. Rose Mini selaku psikolog mengatakan, “Tidak perlu terlalu memaksakan dipercepat, sesuaikan dengan kebutuhan. Bisa saja seorang siswa justru lebih bisa berkembang dan berkreasi di “tempat” lain. Percayalah, ini bukan program yang selalu menjamin kebaikan.”

Memahami Syarat Loncat Kelas dan Akselerasi 

Loncat Kelas dan Akselerasi

selasar.com

 

Syarat utama agar siswa bisa mengikuti percepatan adalah akademik yang sangat baik. Selain itu, didukung oleh kematangan mental, motivasi, dan IQ minimal 130. Jika tidak semua terpenuhi, maka jangan memaksakan anak untuk mempersingkat masa belajar.

Kalau memang seorang anak memenuhi semua kriteria, pikirkan lagi saat mereka memasuki bangku kuliah. Lantaran lulus SMA lebih muda dari umur normal, kelabilan sangat rentan mempengaruhi kehidupan seperti tentang pergaulan.

Tips Loncat Kelas dan Akselerasi

Loncat Kelas dan Akselerasi

healthline.com

 

Sebelum memutuskan untuk loncat kelas dan akselerasi, coba cari tahu terlebih dahulu tentang kurikulum yang akan dipelajari. Hal ini untuk meyakinkan diri sendiri serta menguji kesiapan. Tidak kalah penting, memahami dampak sosial serta mempertimbangkan hal di luar sekolah, apakah terganggu atau tidak.

Pikirkan sekali lagi untuk mengambil langkah ini lantaran memiliki risiko. Entah nanti cocok, atau justru stres dan frustrasi. Jika memang hal buruk yang terjadi, berhenti untuk memaksakan kapasitas diri.

Memahami Dua Dampak dari Loncat Kelas dan Akselerasi

Loncat Kelas dan Akselerasi

usnews.com

 

Pakar yang mendukung percepatan belajar ini beranggapan bahwa siswa bertalenta akan merasa cepat bosan, kurang tertantang serta bersemangat, dan terkungkung dalam zona nyaman, sehingga lebih baik tidak berada di kelas reguler.

Adapun dampak buruk yang timbul seperti perkembangan sosial emosional terhadap lingkungan sekitar, bahkan sampai ke dunia kerja. Sebagai orangtua, pastikan lagi, apakah karakter, sifat, kepribadian, kemandirian, dan kesiapan anak layak dimasukkan ke kelas percepatan.

Jika memang sudah yakin, latih kecerdasan emosional anak serta manajemen waktu agar semakin siap dan memiliki pola hidup teratur.

Loncat kelas dan akselerasi memang terlihat sebagai suatu prestasi belajar, karena menandakan segi akademis yang baik. Namun, hal-hal lain perlu diperhatikan agar langkah ini tidak berisiko terhadap tumbuh kembang anak. Sebagai orang tua, putuskan sesuai kebutuhan, bukan ambisi, melainkan kepercayaan bahwa anak mampu.

Be the first to write a comment.

Your feedback