Beginilah Caranya Mengajarkan Anak Melukis Emosi

Jessica,
0
Peralatan dan Media:

Melukis emosi, memangnya bisa? Ya, kenapa tidak? Meskipun tidak bisa dilihat, tapi emosi bisa dirasakan dan dituangkan ke dalam warna dan goresan cat. Hasilnya berupa lukisan abstrak yang memiliki interpretasi tersendiri bagi yang melihatnya.

Aktivitas melukis membantu anak mengekspresikan emosinya, baik itu emosi positif maupun negatif. Ketika anak merasa bahagia, dia mampu menumpahkan keceriaan yang tidak tersampaikan lewat kata-kata. Sebaliknya, ketika dia sedang marah atau sedih, dia dapat melampiaskannya dengan positif. Perasaan menjadi lega, karya pun tercipta.

Lalu, bagaimana caranya melukis emosi dan mengajarkannya pada anak? Andrea Mulder-Slater dari Kinderart membagikan langkah-langkahnya pada Anda. Cocok sekali untuk Anda yang merupakan guru kesenian dan ingin mengajarkannya pada beberapa anak sekaligus. Yuk, disimak!

Peralatan dan Media:

Peralatan dan Media:

Peralatan dan Media:

Siapkan kanvas atau kertas berukuran besar yang cukup tebal. Sediakan pula cat akrilik, kecuali jika anak terlampau muda, misalnya berusia lima tahun ke bawah. Sebagai gantinya, sediakan cat tempera atau krayon.

Benda-benda lain yang perlu disiapkan; pensil, wadah, nampan untuk menampung campuran cat. Anda bisa menggunakan styrofom atau sobekan karton bekas sebagai nampan. Jangan lupa juga untuk menyiapkan air.

Benda pelengkap antara lain tisu atau serbet dan koran bekas. Putarlah musik dalam berbagai genre untuk menstimulus emosi.

Langkah-Langkah:

  1. Berikan penjelasan tentang pengertian emosi. Apa saja jenis emosi yang dirasakan manusia dalam kehidupannya sehari-hari.
  1. Jelaskan tentang warna. Bagaimana warna bisa mengekspresikan perasaan manusia.
  1. Jelaskan tentang garis. Macam-macam garis yakni yang berbentuk lurus, bergerigi, berlekuk, zig-zag, dan lain-lain.
  1. Anak-anak melakukan pemanasan dengan menorehkan garis di atas koran, menggunakan pensil. Jenis garisnya disesuaikan dengan perasaan mereka sekarang; garis kebahagiaan, garis kemarahan, dan sebagainya.
  1. Anda juga bisa mengarahkan anak-anak untuk menggambar garis berdasarkan perasaan mereka saat mendengar musik genre tertentu. Misalnya, musik jazz, klasik, pop, dan sebagainya.
  1. Begitu anak-anak merasa terstimulus, mereka sudah siap untuk melukis. Pastikan setiap anak sudah memegang kuas, menyiapkan air, dan memiliki cat yang sekurang-kurangnya terdiri dari tiga warna dasar; merah, kuning, dan biru.
  1. Berikan demonstrasi singkat mengenai cara menggunakan peralatan lukis dengan baik. Misalnya, selalu membersihkan kuas sebelum mencelupkannya ke cat lain yang belum disentuh, tidak terlalu menggesekkan kuas ke atas kertas agar kuas tetap terawat dengan baik. Selain itu, terangkan juga tentang pencampuran warna (kuning + biru = hijau, merah + kuning = jingga, merah + biru = ungu).
  1. Setiap anak bisa memutuskan emosi apa yang ingin mereka ekspresikan melalui warna cat yang bervariasi, garis, tekstur, dan bentuk.
  1. Izinkan sang seniman cilik untuk mengerjakannya selama waktu yang dia butuhkan. Biarkan mereka memastikan terlebih dahulu, apakah emosi mereka sudah mampu tersampaikan lewat lukisan.
  1. Ingatlah bahwa latihan ‘melukis emosi’ itu bersifat intuitif dan subjektif. Orang yang tepat untuk menganalisis dan menilai lukisan tersebut bukan guru kesenian, melainkan sang pelukis itu sendiri.
  1. Jika semua lukisan telah rampung, gantungkan lukisan-lukisan itu di dinding. Biarkan setiap anak saling menginterpretasikan lukisan teman-temannya. Pertanyaan yang nanti bisa Anda ajukan, apakah kalian merasakan emosi yang sama ketika melihat lukisan milik si X, sesuai dengan emosi yang ingin ditampilkannya. Iya? Tidak? Mengapa?

Demikianlah cara mengajarkan anak melukis emosi. Adapun selain bermanfaat dalam melampiaskan emosi, melukis juga melatih kemampuan motorik, kemampuan berkonsentrasi, dan kreativitas anak. Nah, semoga bermanfaat, ya. Selamat dipraktikkan!

Be the first to write a comment.

Your feedback

× Available Space for Lease