Prestasi Anak BukanTrofi Orang Tua

Jessica,
0
Usia Anak Menunjukkan Pelajaran Seperti Apa yang Harus Mereka Dapatkan - longislandfamilylawandmediation.com

Masih menjadi kenyataan pahit bahwa sistem pendidikan dan pola pikir para orang tua kerap membuat anak-anak di Indonesia tertekan. Para orang tua menetapkan standar-standar yang harus anaknya capai.Jika tidak, mereka akan melampiaskan kekecewaannya pada si anak. Bagi sebagian orang tua, prestasi anak dan nilai akademik yang tinggi merupakan keharusan.

Memang, orang tua punya alasan mereka sendiri. Yang paling klise adalah agar masa depan si anak cemerlang. Mereka bersikap tegas dan keras, tanpa menyadari bahwa yang mereka lalukan semata demi diri mereka sendiri, bukan kebahagiaan si anak. Yang penting, prestasi anak bisa dipajang di pertemuan-pertemuan keluarga besar atau semacamnya.

Namun, Amankah Cara Orang Tua Tersebut?

Namun, Amankah Cara Orang Tua Tersebut? - youngparents.com.sg

Namun, Amankah Cara Orang Tua Tersebut? – youngparents.com.sg

Tidak hanya standar prestasi yang ditetapkan, bidang yang akan ditekuni sang anak juga sering kali menjadi keputusan orang tua. Lalu, bagaimana dengan mental mereka menerima hal tersebut? Menurut seorang psikolog, Adityana Kasandra Putranto, beban berat yang diterima si anak dapat memicu stres, bahkan depresi.

Tidak hanya keengganan mereka yang dapat memicu stres, tapi juga banyaknya jadwal pendidikan yang harus dijalani. Setelah usai jam sekolah, dilanjutkan dengan les. Seusai les, si anak harus mengulangi materi yang dipelajari di sekolah tadi. Kebanyakan orang tua mengira hal tersebut akan meningkatkan kecerdasan intelektual anak mereka. Ya, anak tersebut memang bisa menjadi lebih pintar, tapi juga berdampak pada tumpulnya kreativitas.

Tekanan dari orang tua, kebanyakan tugas, kehilangan waktu bermain, perlahan akan membunuh kebahagiaan mereka. Karena tidak bahagia, prestasi yang diinginkan malah bisa pupus.

Usia Anak Menunjukkan Pelajaran Seperti Apa yang Harus Mereka Dapatkan

Usia Anak Menunjukkan Pelajaran Seperti Apa yang Harus Mereka Dapatkan - longislandfamilylawandmediation.com

Usia Anak Menunjukkan Pelajaran Seperti Apa yang Harus Mereka Dapatkan – longislandfamilylawandmediation.com

Jika betul-betul peduli pada anak, artinya juga peduli pada kebahagiaan dan kenyamanan mereka dalam belajar..Untuk itu, alangkah baiknya jika orang tua mengenali fase-fase perkembangan kognitif si anak. Sebab, memberikan pelajaran yang sesuai dengan usia mereka sangatlah penting.

Perkembangan kognitif anak terbagi atas;

  1. Periode sensorik motorik pada usia 0-2 tahun, berhubungan dengan refleks.
  2. Periode pra operasional pada usia 2-7 tahun, berhubungan dengan kemampuan mengklasifikasikan suatu hal.
  3. Periode konkret pada usia 7-11 tahun, berhubungan dengan logika.
  4. Periode operasional formal pada usia 11 tahun hingga dewasa, yang sudah bisa melakukan analisis pada sesuatu yang abstrak, seperti emosi dan cinta.

Namun, yang terjadi di Indonesia tidak runut sesuai fase-fase di atas. Anak kelas 1 SD telah dipaksa untuk memahami hal abstrak seperti kemerdekaan, hingga menghafal dan menghitung. Seakan-akan, anak-anak harus pintar dan menguasai segala hal. Berbeda dengan negara-negara seperti Australia dan Finlandia, yang lebih mengedepankan kecerdasan emosional pada usia dini.Di Jepang, anak-anak usia dini lebih diajarkan tentang antre dan keramah-tamahan.

“Anakmu Bukan Anakmu.”

“Anakmu Bukan Anakmu.” - identity-mag.com

“Anakmu Bukan Anakmu.” – identity-mag.com

Kutipan dari puisi Kahlil Gibran tersebut barangkali benar adanya. Seorang anak memang lahir dari rahim ibunya, tetapi bukan berarti si ibu lebih memiliki anak tersebut dari pada Tuhan dan anak itu sendiri. Seorang anak pantas mendapatkan kasih sayang, namun mengikuti pemikiran dan ide-ide dari orang tuanya merupakan pilihan mereka sendiri.

Tentunya, jika kita mencintai seseorang, kita akan berusaha agar orang tersebut bahagia dan berguna. Tugas orang tua mungkin lebih terbatas pada memastikan anaknya tidak merugikan diri mereka dan orang lain. Bukan memutuskan jalan apa yang akan anak tempuh, pelajaran apa yang akan anak dapatkan, kegagalan dan prestasi anak, serta cara anak untuk hidup bahagia.

Be the first to write a comment.

Your feedback