5 Alasan Orang Tua Tidak Perlu Takut Anak Pintar Berdebat

Anak yang pintar berdebat berpotensi melawan orang tua? Belum tentu. Bila caranya tepat dan diarahkan dengan benar, keahlian ini justru dapat menyelamatkan mereka di kemudian hari. Lagipula, anak yang terlalu menuruti orang tuanya juga bukan sesuatu yang baik, mengingat suatu saat mereka beranjak dewasa dan harus mandiri.

Menurut Jean Piaget, pakar perkembangan anak, anak-anak di usia SD masih berpikir secara logis dan sederhana. Mereka belum mampu menganalisa masalah yang lebih kompleks atau abstrak. Makanya, bila ada hal yang menurut mereka tidak sesuai pengetahuan mereka, anak akan cenderung bertanya dan mendebat.

Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, anak akan tahu cara mendebat yang tepat. Daripada takut dengan anak yang pintar berdebat, inilah lima (5) alasan orang tua harus bersyukur dengan kemampuan mereka berpikir kritis:

Mereka berpikir secara aktif, tidak hanya menerima informasi mentah-mentah

Pintar Berdebat

pixabay.com

Bersyukurlah bila anak pintar berdebat. Artinya: mereka berpikir secara aktif dan tidak hanya menerima informasi mentah-mentah. Lagipula, bukankah itu juga tujuan dari bersekolah dan kuliah? Nilai bagus bukan satu-satunya, karena penerapan ilmu jauh lebih berguna.

Bayangkan bila anak tidak bertanya dan main terima saja informasi yang belum tentu benar? Bisa jadi mereka mudah termakan hoaks dan tidak bisa berpikir kritis.

Mereka mempunyai kewaspadaan lebih tinggi mengenai sekeliling mereka

pixabay.com

Anak yang pintar berdebat sesungguhnya mempunyai kewaspadaan lebih tinggi mengenai sekeliling mereka. Misalnya: anak merasa cemburu, karena selama ini dirinya sebagai kakak atau adik diperlakukan berbeda dari saudaranya yang lain. Apa pun alasan Anda, ajak mereka berbicara agar dapat saling memahami.

Kebiasaan ini juga dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Misalnya: anak tidak mudah menuruti permintaan orang dewasa yang mungkin berniat tidak baik pada mereka, seperti menyentuh bagian tubuh tertentu yang dilarang.

Mereka lebih perhatian dan sebenarnya lebih mempunyai empati

pixabay.com

“Mama, kenapa temanku suka dipukul mamanya di depan orang? Mama nggak pernah gitu sama aku meski aku salah.”

Bersyukurlah bila anak pintar berdebat soal ini, meskipun orang dewasa lebih sering menutup mata dengan alasan bukan urusan mereka. Meskipun belum tentu bisa menolong teman si kecil, setidaknya anak berempati lebih tinggi dan tidak akan melakukan hal serupa saat mereka dewasa nanti.

Mereka sedang berusaha ikut mencari solusi dari suatu masalah

pixabay.com

Jangan samakan anak yang pintar berdebat dengan yang hanya rewel dan tukang mengeluh. Anda bisa mengetahui bedanya lewat satu hal:

Saat anak mengkritik atau mendebat sesuatu, tanyakan pada mereka: “Kalau begitu, menurut kamu sebaiknya bagaimana?” Meskipun jawaban mereka belum tentu selalu tepat, setidaknya hargai usaha mereka untuk menemukan solusi dari masalah tersebut. Ini berbeda dengan anak yang hanya bilang: “Nggak tahu. Nggak suka aja.”

Mereka punya rasa percaya diri tinggi dan tidak mudah diremehkan

pixabay.com

Anak yang pintar berdebat tidak akan mudah mengalah dengan ancaman: “Pokoknya harus menurut, kalau tidak kamu nakal.” Justru mereka akan terus mencecar dan menolak permintaan bila semakin dipaksa dengan cara seperti itu.

Di satu sisi, Anda mungkin akan kewalahan menemukan jawaban yang tepat untuk kritikan dan protes mereka. Di sisi lain, Anda akan terpacu juga untuk terus berpikir keras, sama seperti mereka. Lagipula, anak yang suka berdebat juga cerdas. Mereka punya rasa percaya diri tinggi dan tidak mudah diremehkan.

Jadi, masih khawatir dengan kebiasaan anak sendiri yang pintar berdebat? Sebaiknya ingat kelima (5) alasan di atas agar Anda selalu bersyukur. Lebih baik berdebat daripada menurut namun mudah dipermainkan orang.

Exit mobile version