Trik Melatih Kemandirian Anak

Kemandirian merupakan suatu sikap yang sangat penting dimiliki oleh setiap individu untuk dapat bertahan dalam beragam kondisi di kehidupannya. Seorang anak tidak serta-merta begitu saja tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tanpa dididik dan dilatih sejak dini. Kemandirian anak adalah hasil dari proses  panjang yang dilakukan orang tua.

Idealnya kemandirian mulai diajarkan dan dilatih pada anak sejak usia tiga tahun, ketika anak mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya selain orang tua. Trik-trik berikut ini akan membantu orang tua dalam melatih kemandirian anak.

Buat Lingkungan yang Mendukung Kemandirian Anak

Buat Lingkungan yang Mendukung Kemandirian Anak

pixabay.com

Berlatih kemandirian pada anak usia dini dimulai dengan belajar merawat diri sendiri. Misalnya makan, mandi, berpakaian, buang air besar dan kecil.

Untuk memudahkan anak melakukan hal-hal tadi secara mandiri, buatlah lingkungan yang mendukung. Siapkan perangkat makan yang aman untuk anak-anak, simpan di tempat yang mudah dijangkau.

Memberikan Kepercayaan

Untuk anak usia dini,  yakinkan bahwa dia bisa mulai makan sendiri dan tidak perlu menunggu disuapi. Izinkan anak menyiapkan sarapannya sendiri. Misalnya mengambil mangkuk makannya, menuangkan susu dan sereal ke mangkuk tanpa dibantu.

Ketika menginjak usia remaja, anak perempuan bisa mulai diberikan kepercayaan untuk memilih menu makanan yang akan dimasak, kemudian membantu kegiatan di dapur.

Kepercayaan yang diberikan pada mereka akan menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya dapat melakukan banyak hal secara mandiri.

Berikan Pujian untuk Menyemangati

pixabay.com

Ketika anak berhasil lepas dari popok dan pergi buang air sendiri di toilet, berikan pujian yang proporsional untuk menyemangati. Begitupun ketika mereka sudah bisa mengenakan pakaian sendiri.

Hargai usaha yang telah diperlihatkan anak, sekecil apa pun itu. Pujian yang tidak berlebihan akan membuat anak lebih percaya diri dan termotivasi untuk berhasil melakukan hal-hal lainnya. Dari sekadar buang air sendiri, lalu mulai bisa mandi sendiri tanpa perlu diawasi, berpakaian dan melepaskan pakaian, hingga yang lebih kompleks seperti mengikat tali sepatu, dan seterusnya.

Biarkan Anak Memilih dan Belajar Mengambil Keputusan

Jika anak terbiasa dipilihkan ini-itu untuk segala sesuatu dalam kesehariannya, ketika beranjak dewasa kemungkinan besar menjadi individu yang sulit membuat keputusan.

Bantu anak untuk mandiri dalam memilih, misalnya terkait aktivitas  di luar jam sekolah yang ingin diikutinya. Orang tua hanya memberikan pandangan mengenai manfaat masing-masing aktivitas bagi masa depan mereka, selebihnya beri keleluasaan untuk memutuskan mana yang akan dipilih.

Sabar Dalam Melatih Kemandirian

pixabay.com

Diperlukan kesabaran dalam melatih kemandirian anak. Biasanya orang tua menjadi kurang sabar ketika melihat anak tidak cepat berhasil melakukan apa yang telah diajarkan atau diarahkan. Misalnya mengancingkan baju, memakai sendiri sepatu bertali, membuka kaleng biskuit, dan lain-lain. Biarkan anak menjalani prosesnya sampai mereka berhasil.

Bangkitkan Semangat Anak

Ketika anak menunjukkan keinginan untuk mandiri, bangkitkan terus semangatnya. Berikan kata-kata yang memotivasi dan memperlihatkan dukungan atas keinginannya. Jangan patahkan semangat anak dengan meragukan inisiatifnya atau mengatakan sesuatu yang menurunkan kepercayaan dirinya.

Terima bantuan anak untuk merapikan rumah, menyapu, mengepel dan lain sebagainya. Berikan apresiasi dengan tulus ketika mereka berhasil mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya dengan baik. Hindari memarahi anak ketika melihat hasil kerjanya kurang sempurna.

Membatasi Campur Tangan

pixabay.com

Usahakan untuk tidak ikut campur terlalu dalam pada masalah-masalah yang seharusnya bisa diselesaikan sendiri oleh anak. Misalnya saat anak mengalami kesulitan mengerjakan pekerjaan rumahnya, orang tua cukup memberikan arahan bukan malah mengambil alihnya.

Orang tua tentu tidak akan selamanya berada di sisi anak-anak mereka. Kemandirian anak harus dipersiapkan sebaik mungkin agar mereka  percaya diri kendati tidak lagi didampingi orang tua.

Exit mobile version