5 Cara Kritis Mahasiswa Hadapi Hoaks

Mahasiswa termasuk salah satu pengguna media sosial dalam jumlah terbesar di dunia. Tidak hanya untuk berinteraksi dan ajang berekspresi, mahasiswa juga butuh informasi. Tidak perlu menunggu masa kampanye politik, gosip dan kabar bohong, alias hoaks juga bertebaran di sini. Apa cara kritis mahasiswa hadapi hoaks?

Sebelumnya, mahasiswa harus memahami dengan benar dulu mengenai hoaks. Tidak hanya ciri-cirinya, namun juga bahayanya. Apalagi, arus penyebaran informasi yang super cepat lewat media sosial juga mempengaruhi perilaku user. Hanya baca sekilas tanpa memahami, lalu langsung share.

Nah, mahasiswa yang cerdas sebaiknya tidak ikut-ikutan seperti itu. Inilah lima (5) cara kritis mahasiswa hadapi hoaks, agar tidak ikut menambah kepanikan yang tidak perlu:

Membaca lebih dari sekali sebelum memutuskan untuk share

Cara Kritis Mahasiswa Hadapi Hoaks

pixabay.com

Ingat, sebagai mahasiswa, kamu dituntut untuk banyak membaca, menganalisis, dan berpikir kritis. Bila buku kuliah tebal saja kamu sanggup membaca, apalagi artikel pendek berkategori ‘antah-berantah’ di dunia maya.

Beberapa ciri berita hoaks adalah: judulnya yang bombastis (kadang pakai tanda seru berlebihan), alamat website mencurigakan (lebih mirip blog pribadi ketimbang website resmi media), hingga isi beritanya yang tidak didasarkan fakta jelas. Bahkan, dalam beberapa kasus ada kalimat dengan typo yang sangat parah.

Isi berita juga kebanyakan menyebarkan kebencian atau pemujaan berlebihan terhadap segala sesuatu atau seseorang.

Mencari sumber artikel dari media lain sebagai perbandingan

pixabay.com

Bila saat mengerjakan skripsi atau disertasi butuh berbagai sumber, ini juga berlaku untuk memastikan berita tertentu bukan hoaks. Untuk cara kritis mahasiswa hadapi hoaks, carilah sumber artikel dari media lain sebagai perbandingan. (Itu kalau kamu beneran penasaran dengan berita tersebut, lho.)

Misalnya: kamu ingin mengetahui berita terbaru tentang politisi tertentu. Bila berita yang kamu terima mencurigakan, coba bandingkan dengan minimal tiga sumber artikel dari media resmi lainnya. Bila tidak sesuai atau ada media yang mengklarifikasi kabar tersebut, berarti artikel pertama adalah hoaks.

Konfirmasi dengan teman yang seminat atau bahkan dosen

pixabay.com

Masih penasaran juga dengan kebenaran artikel itu? Selain membandingkannya dengan sumber artikel lain, kamu juga boleh berdiskusi dengan teman yang seminat atau bahkan dosen. Tapi, pastikan teman bukan tipe penyebar hoaks dan dosennya juga terpercaya.

Jangan mudah terpancing emosi dengan teman yang hobi menyebar hoaks

pixabay.com

Sekarang sudah zaman mahasiswa membuat grup Whatsapp atau media sosial lainnya. Misalnya: grup Whatsapp untuk satu angkatan hingga satu jurusan. Selain untuk menjalin keakraban alias networking, grup ini berfungsi sebagai tempat saling berbagi informasi.

Sayangnya, ada saja teman yang hobi menyebar hoaks. Daripada mudah terpancing emosi, lebih baik kamu tegur dia baik-baik secara pribadi. Lengkapi juga dengan bukti bahwa yang mereka sebar itu berita bohong yang dapat meresahkan teman-teman lain di grup.

Bila teman bersikeras dan semakin mengganggu, kamu bisa meminta tolong admin grup agar menindak mereka.

Tidak ikut menyebarkan hoaks, meskipun untuk klarifikasi

pixabay.com

Ini juga cara kritis mahasiswa hadapi hoaks. Meskipun sudah tahu bahwa berita itu bohong dan hanya ingin mengklarifikasi, jangan langsung share dari sumber aslinya. Yang ada, pemilik website mendapat untung dari banyaknya view ke konten mereka.

Jika ingin sedikit repot, cukup buat screenshot judul artikel dan share screenshot tersebut, lengkap dengan klarifikasinya. Bila tidak, jangan terpancing untuk menyebarkan hoaks.

Inilah lima (5) cara kritis mahasiswa hadapi hoaks. Sebagai salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia, mahasiswa harus bersikap cerdas dan kritis terhadap berita-berita bohong semacam ini.

Exit mobile version