Pintar Tanpa Menghafal? Bisa!

Banyak cara yang dilakukan seseorang untuk menjadi pintar. Salah satu yang sering disarankan adalah dengan memperkuat daya ingat. Penguatan ini diyakini memudahkan seseorang untuk menghafal materi-materi pelajaran. Bermodalkan daya ingat, ternyata Anda juga bisa pintar tanpa menghafal.

Evaluasi belajar dalam suatu kelas biasanya menggunakan standar penilaian. Semakin tinggi dan stabil nilai tes Anda, semakin besar kesempatan Anda mendapat predikat pintar.

Sampai saat ini model evaluasi berdasarkan penilaian memang masih yang paling adil. Kerja keras Anda menghafal berbagai materi sejarah dan rumus matematika, dianggap sepadan dengan nilai ujian yang dihasilkan.

Masalahnya, model kurikulum di Indonesia kerap mempersulit penyisaan ruang di kepala. Terlalu banyak materi lintas bidang yang harus dihafalkan. Sejak sekolah dasar, Anda dibiasakan menghadapi tuntutan pelajaran bidang alam, sosial, kesenian, dan olahraga.

Mencegah Eksistensi Produk yang Tidak Berkualitas

Source - pixabay

Source – pixabay

Beranjak ke tingkat SMP, Anda menemukan fisika, biologi, ekonomi, sosiologi, serta pembagian kelas seni. Jelas tidak banyak ruang otak yang tersisa. Pintar tanpa menghafal sekadar alternatif, yang bisa didapat dari bimbingan belajar nonformal.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, peserta didik akan mendapatkan pilihan untuk melanjutkan jenjang keilmuan ke SMA atau SMK. Pada tahap ini praktik pintar tanpa menghafal sesungguhnya baru bisa diterapkan dengan maksimal.

Momentum di tingkat SMA atau SMK itu memang tidak bisa dibilang terlambat. Akan tetapi, model kurikulum berkelanjutan, dari pendidikan dasar ke pendidikan keahlian, terbukti memakan waktu. Sungguh sangat panjang jenjang kurikulum yang harus ditempuh untuk, misalnya, menjadi seorang ahli penanganan bencana alam.

Masalah demi masalah pun hadir dalam kewajiban belajar belasan tahun tersebut. Proses yang sangat panjang dan keterlambatan memperkenalkan metode pintar tanpa menghafal, berdampak langsung pada kualitas mahasiswa di Indonesia.

Bukan hal yang sulit untuk menemukan kesan lelah dan sentimen-sentimen keilmuan dari para mahasiswa. Lebih parahnya logika berpikir kritis mereka juga semakin tergerus hari demi hari. Jangankan berpikir kritis. Rasa keingintahuan dan perilaku berinisiatif mereka saja, hampir tidak ada.

Menyambut Era Belajar yang Kreatif

Source -pixabay

Ketika kebiasaan menghafal hanya melahirkan robot-robot teori, berarti dibutuhkan terobosan baru dalam metode belajar. Pintar tanpa menghafal jelas bukan inovasi kekinian. Namun penerapannya, yang selama ini familier di tempat les, harus lebih bisa dimasyarakatkan.

Memulai perilaku pintar tanpa menghafal juga bisa dilakukan dari diri sendiri. Anda bisa menjadi pengingat di masyarakat, bahwa era keemasan robot-robot penghafal sudah berlalu. Oleh karena itu, cobalah menjadi saksi dan pelaku pengembangan metode belajar yang lebih kreatif, seperti:

1. Menyimpan Keyword sebagai Petunjuk

 

Sejumlah indikator penilaian dari sebuah materi pelajaran, selalu menuntut peserta didik memahami materi yang diajarkan. Kalau ruang di otak sudah terlalu penuh, tidak ada salahnya Anda mengingat beberapa kata kunci (keyword) saja. Dengan menyimpan keyword, Anda jadi terlatih memilih dan menentukan pemakaiannya dalam soal-soal ujian.

2. Berorientasi pada Studi Kasus

 

Masih berhubungan dengan cara kreatif sebelumnya. Petunjuk dari keyword sering kali dirasa kurang sesuai dengan sebuah soal ujian. Di sinilah pentingnya Anda menyesuaikan sebaik-baiknya petunjuk tersebut, dengan membayangkan sebuah studi kasus.

3. Membayangkan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Studi kasus yang Anda gunakan pada metode sebelumnya, bisa saja bukan berasal dari pengalaman Anda sendiri. Kalau ingin lebih realistis, cobalah gunakan petunjuk-petunjuk dari keyword dalam kehidupan sehari-hari. Teori dari Isaac Newton atau Adam Smith pun jadi lebih mudah dibayangkan praktik konkretnya.

4. Lengkapi Referensi dengan Teknologi

 

Era kegemilangan RPUL dan RPAL memang sudah berlalu. Sekarang saatnya Anda memanfaatkan gadget agar aktivitas belajar lebih maksimal. Cara kreatif ini sangat disarankan bagi Anda yang merasa kurang puas dengan koleksi keyword maupun studi kasus tradisional.

Demikianlah uraian tentang perilaku pintar tanpa menghafal yang akan membantu Anda menjawab masalah kurikulum pendidikan di Indonesia. Memulainya dari diri sendiri tentu semakin memudahkan penerapan di masa depan, agar keluarga dan anak-anak Anda tetap gemilang.

Exit mobile version