Yuk, Ubah Konsep Kekinian yang Keliru

Jessica,
0
Source - pixabay

Di antara generasi baby boomers hingga generasi Alpha, konsep kekinian yang keliru lebih banyak dialami oleh generasi Z dan generasi Alpha. Pasalnya, mereka tumbuh dalam era modern dan telah akrab dengan teknologi sejak kecil. Generasi digital ini telah terbiasa dengan akses internet yang memudahkan pencarian berbagai informasi sejak usia yang cukup dini. Sebagai dampaknya, Anda tentu bisa dengan mudah menyaksikan perbedaan perilaku dan gaya hidup generasi ini dengan generasi-generasi sebelumnya.

Yang disayangkan, konsep kekinian yang dipegang teguh oleh dua generasi ini salah dan cukup memprihatinkan. Modernisasi ditafsirkan sebagai persaingan eksistensi di dunia maya, perhelatan gaya hidup mewah, perlombaan berperilaku yang melanggar norma, dan sebagainya. Padahal, kendati modernitas bukanlah hal yang bisa ditampik lagi, identitas tidak semestinya ikut tergeser hanya karena perbedaan era.

Konsep kekinian yang keliru seperti inilah yang harus segera dibenahi. Lantas, bagaimana konsep kekinian yang seharusnya?

 

  • Tidak kehilangan identitas

 

Source - pixabay.com

Source – pixabay.com

Berapa banyak remaja Indonesia yang telah melakukan pergaulan bebas? Berapa banyak remaja Indonesia yang tanpa sungkan mengumbar hal-hal tabu di media sosialnya tanpa rasa malu? Berapa banyak remaja Indonesia yang kini lebih banyak mengenal dan menerima budaya asing dibandingkan budaya bangsa sendiri—termasuk pemahaman dalam berbahasa sebagai hal yang paling mendasar?

Perilaku semacam ini tentu tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya timur. Terlebih, perilaku ini terlalu menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. Modernitas semestinya dapat disikapi dengan bijak tanpa harus menghilangkan identitas diri dan bangsa: berpikiran terbuka, bersikap lebih objektif, tetapi tidak dengan semena-mena menerima seluruh budaya dan nilai-nilai yang bertentangan dengan adat dan ideologi.

 

  • Bijak dalam memanfaatkan teknologi

 

Source - pixabay

Source – pixabay

Bisa dibilang, faktor utama kelirunya konsep kekinian adalah kemajuan teknologi khususnya di bidang informasi dan komunikasi. Bebas dan tidak terbatasnya informasi yang ada di internet tidak bisa hanya sekadar disaring menggunakan berbagai kebijakan dan teknologi lainnya. Filtrasi terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan logika dan perasaan berdasarkan pengetahuan dan nilai-nilai yang teguh dipegang setiap individu. Untuk itulah, kemajuan teknologi semestinya dimaksimalkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat untuk kepentingan yang lebih besar.

 

  • Tidak hanya berperilaku, tetapi juga berpikir modern

 

Source - pixabay

Source – pixabay

Berpikir modern yang dimaksud di sini berarti dapat menilai sesuatu secara lebih objektif, lebih toleran, dan lebih berpandangan luas. Artinya, individu modern dapat lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan dan tidak terlalu banyak meributkan hal-hal remeh. Sehingga dengan demikian, konsep kekinian tidak hanya terbatas pada persaingan kecil yang tidak melibatkan prestasi apa pun seperti kasus bullying dalam bentuk apa pun yang semakin marak terjadi.

 

  • Fokus kepada hal-hal yang lebih besar

 

Source - pixabay

Source – pixabay

Seperti yang diutarakan seorang sosiolog dari Universitas Harvard, beberapa ciri dari manusia modern adalah memiliki perencanaan dan pengorganisasian serta menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan. Artinya, mereka sudah mampu untuk memproyeksikan hal-hal besar dalam jangka waktu yang cukup panjang. Target selama beberapa tahun ke depan sudah dipersiapkan sejak awal, sehingga persiapan yang dilakukan pun tidak main-main.

Di Indonesia sendiri, sebagian besar remajanya justru masih berkutat hanya pada hal-hal kecil yang melibatkan gengsi. Terlalu banyak tenaga dan waktu yang dihabiskan untuk hal-hal kecil yang tidak akan berlangsung lama. Dibandingkan perilaku yang seperti itu, remaja modern seharusnya lebih banyak belajar dan mengeksplorasi bakat dan minat yang dimilikinya. Dengan demikian, visi yang akan dicapai menjadi lebih jelas dan lebih mudah dalam menentukan langkah-langkah tepat yang harus diambil.

Mau tidak mau, manusia harus beradaptasi dengan zaman dan lingkungannya. Namun yang perlu diingat, sekalipun era telah berganti, nilai-nilai yang menjadi identitas diri dan bangsa tidak semestinya ikut tergerus. Penggunaan internet pun harus dengan bijak untuk mencegah dampak buruk internet terhadap perilaku dan pendidikan remaja. Setuju?

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Be the first to write a comment.

Your feedback

× Available Space for Lease